perpus -

Kalau Duduk Bersama Tidak Menyesaikan Masalah Cobalah Tidur Bersama

Admin Perpus 11 Jul 2026 3 Min. To Read 68 views
Kalau Duduk Bersama Tidak Menyesaikan Masalah Cobalah Tidur Bersama

Kalau Duduk Bersama Tidak Menyesaikan Masalah Cobalah Tidur Bersama

Admin Perpus 11 Jul 2026 3 Min. To Read 68 views

Tentu, berikut adalah ringkasan isi buku berdasarkan gambar-gambar halaman yang kamu berikan:

Ringkasan Buku: Pemikiran untuk Kemajuan Ekonomi Indonesia

Buku ini mengajukan usulan yang berbeda dalam memajukan ekonomi Indonesia, dengan penekanan bahwa jika ide-ide ini dapat diterima, itu adalah keberuntungan, dan jika tidak, juga tidak mengapa. Penulis menyarankan agar dalam memilih strategi, Indonesia tidak hanya mengubah kebijakan ekonomi, tetapi juga kebijakan luar negeri yang baru, yang merupakan bagian dari geoekonomi dan geostrategi bernegara. Penting untuk membuat kebijakan yang tidak sepotong-sepotong agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada impor dan ekspor, dan dapat menjadi pemain yang kuat di kancah global.

Lebih lanjut, buku ini menjelaskan tiga referensi utama mengapa Indonesia harus menerapkan strategi diplomasi tingkat tinggi dan bertaraf dunia. Penulis mengkritik pandangan para pejabat bahwa investasi asing langsung (FDI) adalah yang terpenting. Menurutnya, meskipun tidak salah, FDI bukanlah pilihan utama bagi penganut Teori Moneter Modern (MMT). Prinsip utama investasi adalah modal sekecil-kecilnya, usaha semudah-mudahnya, dan untung secepat-cepatnya. Penulis mempertanyakan apakah investor asing yang globalis akan memikirkan kerusakan aset dan sumber daya alam Indonesia, atau memikirkan peningkatan keterampilan buruh lokal.

Sebagai investor, Indonesia sebenarnya akan menghadapi tuntutan "Tax Holiday" dari investor asing. Jika tidak ada tax holiday atau insentif pajak, Omnibus Law sekalipun tidak akan menarik bagi FDI. Penulis mengakui bahwa sedikitnya FDI yang masuk saat ini justru menyelamatkan karena mendukung prinsip MMT tentang pajak rendah atau kemudahan pajak, serta mendukung tax holiday. Namun, ia kembali menegaskan bahwa MMT tidak memerlukan uang asing untuk membangun negara sendiri, berbeda dengan pandangan pejabat yang menganggap investasi asing penting untuk pembangunan.

Buku ini menyajikan tiga referensi sejarah yang melatarbelakangi saran para pendukung MMT kepada para pejabat dan pembuat kebijakan saat ini:

  1. Perang Saudara Romawi antara Julius Caesar dan Pompey: Kisah Brutus, anak angkat Caesar yang memihak Pompey, dijadikan analogi. Pompey dikatakan memiliki pasukan yang lebih besar, lebih lengkap senjatanya, dan didukung penuh oleh senat. Caesar mengingatkan Brutus bahwa kekuatan besar dan terlihat kuat belum tentu menang, dan penting untuk memihak pada yang berpengalaman, militer, terbukti keterampilannya, karena cenderung menang. Ini dianalogikan dengan situasi perang dagang Amerika-Tiongkok saat ini, di mana Indonesia harus hati-hati dalam memilih pihak atau posisi diplomasi.
  2. Perkembangan Eropa Tahun 1300an dan Kota Venesia: Venesia yang strategis di antara Yunani dan Romawi harus memilih pihak. Venesia akhirnya memihak Yunani dan sebagai hasilnya, mendapatkan hak istimewa dan kemakmuran luar biasa selama ratusan tahun. Pilihan ini melahirkan "COLLEGANZA," sebuah sistem yang menjadi platform ekonomi bernegara ala MMT yang dianut penulis. Venesia sukses melalui "Thucidides trap" dengan memihak yang tepat. Ini dianalogikan dengan posisi Indonesia saat ini dalam hal Tiongkok dan Amerika.
  3. Strategi Mengalahkan Virus versi Menteri Kesehatan Siti Fadillah: Penulis menyebut Collenganza dan menjanjikan penjelasan lebih lanjut. Referensi terakhirnya adalah contoh strategi yang digunakan Menteri Kesehatan Siti Fadillah dalam mengatasi virus, yang akan dijelaskan di lain kesempatan.

Kesimpulan: Buku ini menyajikan kritik terhadap kebijakan ekonomi Indonesia saat ini, khususnya terkait ketergantungan pada investasi asing dan persepsi FDI. Penulis menganjurkan pendekatan baru berlandaskan prinsip MMT, dengan penekanan pada geoekonomi dan geostrategi yang matang, serta belajar dari sejarah untuk mengoptimalkan posisi Indonesia di kancah global tanpa terlalu bergantung pada pihak eksternal.

Kalau Duduk Bersama Tidak Menyesaikan Masalah Cobalah Tidur Bersama
Kalau Duduk Bersama Tidak Menyesaikan Masalah Cobalah Tidur Bersama
Download Ebook