Berikut adalah ringkasan isi buku berdasarkan gambar-gambar yang diberikan, diikuti dengan kesimpulan:
Ringkasan Isi Buku: Resesi Karena Ketinggian Ilmu
Buku ini membahas kondisi resesi di Indonesia dan menyajikan sudut pandang kritis terhadap kebijakan serta pemikiran para pejabat dalam menanganinya.
Halaman 1 (02/09): Resesi Karena Ketinggian Ilmu Penulis menyatakan bahwa Indonesia sudah resesi sejak diberlakukannya PSBB, di mana masyarakat "bottom of pyramid" tidak memiliki "income" karena tidak bisa bergerak selama 3 bulan, terutama mereka yang berpenghasilan harian. Pendapatan harian ini banyak berasal dari penjual retail perkotaan. Penulis mengkritik strategi nasional yang memberikan bansos menggunakan uang pinjaman, yang menimbulkan banyak perdebatan. Fokus pada "create demand" dianggap tidak salah jika supply lokal memang ada. Namun, faktanya supply dari produksi lokal sudah 3 tahun terus merosot.
Halaman 2 (03/09): Solusi Uang Pinjaman dan Perang Ekonomi Penulis menganggap solusi "create demand" berbasis uang pinjaman sebagai solusi yang "tidak keren" dan mencerminkan pemikiran pejabat yang masih menganggap situasi ini normal. Penulis menegaskan bahwa saat ini adalah "perang" dan virus Corona masuk dalam kategori "biological warfare". Oleh karena itu, penanganannya harus dalam mode "survival of the nation".
Halaman 3 (04/09): Indonesia Resesi dan Prediksi September Penulis mengkritik pendekatan yang bukan "pemadam kebakaran" dan mempertanyakan mengapa pejabat sulit memahami urgensi masalah. Menurut definisi resesi NBER (dua kuartal berturut-turut mengalami pertumbuhan minus), Indonesia sudah resesi. Kuartal pertama (Januari-Maret) sudah minus, kuartal kedua (April-Juli) juga minus, dan penulis memperkirakan September akan mengumumkan "INDONESIA RESESI".
Halaman 4 (05/09): Solusi Resesi dan Surplus Perdagangan Palsu Solusi agar tidak resesi, menurut penulis, adalah dengan "ganti pemain, secara total" atau "pemain cadangan masukkan!!!!". Jika perubahan dilakukan Oktober atau setahun kemudian, itu sudah terlambat dan ekonomi akan terus melambat hingga 2021 semester pertama. Penulis juga mengkritik "kebanggaan surplus perdagangan" yang dianggap "dilaporkan dengan cara berbeda" agar terlihat bagus. Surplus tersebut terjadi karena import menurun drastis, padahal 70% import Indonesia adalah bahan baku produksi.
Halaman 5 (06/09): Ekonomi Menurun dan Ketegangan Natuna Jika bahan baku produksi menurun tajam, artinya produksi Indonesia tidak bagus, yang akan menyebabkan ekonomi terus menurun. Namun, data diinfokan sepotong-sepotong agar "terlihat keren" bahwa Indonesia surplus transaksi. Penulis juga menyinggung ketegangan laut Natuna Utara, dan lebih memilih menyebutnya "laut Natunba Utara" daripada "laut China Selatan". Ia mengklaim wilayah tersebut adalah "TRADITIONAL FISHING GROUND" bagi orang Natuna selama ribuan tahun dan menyerukan keberanian untuk menyatakan hal tersebut kepada Tiongkok.
Halaman 6 (07/09): Natuna dan Kartu Truf Xi Jinping Penulis menegaskan bahwa 200 mil laut utara Natuna adalah laut Indonesia. Ia mengkritik cara kita menganggap biasa saja ketegangan ini dan tidak memperhitungkan langkah diplomasi, bahkan malah mengajak damai, yang disebutnya "lucu". Penulis menyatakan bahwa Tiongkok (Xi Jinping) dan Amerika Serikat (Biden) memang ingin perang. Ia mengklaim Xi Jinping memiliki "kartu truf" Biden, merujuk pada dosa-dosa Biden dan anaknya yang dipegang oleh Xi Jinping. Penulis menyarankan untuk "ajarin pakai bahasa vulgar sekalian".
Halaman 7 (08/09): Pejabat Tersandera dan Peran Tiongkok Penulis memberikan contoh bagaimana pejabat dapat tersandera: saat kunjungan luar negeri, pejabat disuapi hiburan yang direkam secara rahasia. Beberapa tahun kemudian, rekaman ini dibocorkan untuk menekan pejabat tersebut. Penulis mengklaim banyak pejabat di 70 negara menerima suap dari Tiongkok, dan Tiongkok memiliki dokumen lengkapnya, yang bisa digunakan kapan saja. Disisi Biden juga sama, sehingga Xi Jinping bisa mengontrolnya (misalnya, terkait Huawei 5G).
Kesimpulan: Buku ini menyajikan kritik pedas terhadap penanganan resesi di Indonesia dan kepemimpinan politiknya. Penulis berargumen bahwa resesi saat ini disebabkan oleh kurangnya pemahaman yang mendalam tentang kondisi riil masyarakat dan ekonomi, serta oleh kebijakan yang tidak tepat dan kurang berani. Ia juga menyoroti adanya "perang" ekonomi dan geopolitik, khususnya dengan Tiongkok, di mana banyak pejabat, termasuk pemimpin dunia, dapat menjadi sandera karena informasi kompromi yang dimiliki pihak Tiongkok. Secara keseluruhan, buku ini menyerukan perubahan radikal dalam kepemimpinan dan pendekatan yang lebih tegas serta realistis dalam menghadapi krisis.
