Berdasarkan gambar-gambar halaman buku yang diberikan, berikut adalah ringkasan isi buku "Gus Dur: The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid" dalam Bahasa Indonesia, beserta kesimpulannya:
Ringkasan Buku "Gus Dur: The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid"
Buku ini merupakan biografi resmi Abdurrahman Wahid, atau yang lebih dikenal dengan Gus Dur, yang ditulis oleh Greg Barton. Buku ini diterbitkan oleh LKIS Yogyakarta dan tersedia dalam terjemahan bahasa Indonesia. Total buku ini memiliki xxxiv + 516 halaman dengan ukuran 15,5 x 23 cm. ISBN buku ini adalah 979-3381-25-6 dan 9789793381251.
Buku ini dibagi menjadi beberapa bagian utama, antara lain:
* Bagian IV: Masyarakat Sipil dan Islam (halaman 171) * Reformasi dan Kontroversi, 1984β1990 (halaman 173) * Mendorong Batas 1990β1994 (halaman 217)
* Bagian V: Politik, Pembaruan, dan Kepresidenan (halaman 271) * Bertarung dengan Soeharto 1994β1998 (halaman 273) * Islam, Politik, dan Pemilu 1998β1999 (halaman 321) * Bulan Madu yang Singkat 1999β2000 (halaman 375) * Perubahan Rezim dan Pertarungan untuk Bertahan Hidup 1999β2001 (halaman 435)
* Epilog (halaman 473) * Kesimpulan (halaman 483) * Indeks (halaman 509) * Biodata Penulis (halaman 515)
Prolog
Prolog buku ini dimulai dengan gambaran suasana tegang pada malam Minggu, 10 Oktober 1999, menjelang pemilihan presiden. Sekelompok kecil petugas dengan seragam militer terlibat dalam latihan rumit untuk mengamankan upacara pelantikan presiden Indonesia yang akan datang. Para anggota MPR akan memberikan suara mereka dalam pemilihan presiden.
Dua hari sebelum pemilihan, pada hari Jumat, gedung MPR sudah penuh sesak dengan awak televisi, wartawan, dan penonton. Balai sidang dipenuhi hampir 700 anggota MPR. Mereka terkejut ketika MPR tidak memilih B.J. Habibie, presiden transisi, yang merupakan kandidat favorit. Mereka menolak pidato pertanggungjawaban Habibie. Kemudian, sekelompok kecil berkumpul di ruang auditorium, berusaha memahami berita ini dan bertanya-tanya apa yang akan terjadi selanjutnya.
Pada malam yang larut itu, latihan dan persiapan terus berlanjut tanpa menyadari peristiwa luar biasa yang terjadi beberapa jam sebelumnya. Mulanya, mereka berdebat tentang apakah Megawati Soekarnoputri yang akan terpilih, yang kemudian menjadi pendamping B.J. Habibie. Namun, setelah Habibie terpilih, kelompok kecil ini tidak ingin tinggal di tempat yang salah.
Mereka mulai bertanya-tanya, "Bagaimana kalau Gus Dur yang terpilih?" Namun, kelompok itu mendengar kabar bahwa Gus Dur telah mundur dari pencalonan. Faktanya, Abdurrahman Wahid, yang dikenal sebagai Gus Dur, memimpin pengumpulan suara yang cukup untuk terpilih sebagai presiden. Pada pemilihan bulan Juni, Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan (PDI-P) yang dipimpin Megawati memenangkan lebih banyak suara. Partai Gus Dur β Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) β hanya memperoleh kurang dari 13 persen suara. Gus Dur dianggap sebagai kuda hitam yang mampu mengatasi kesulitan.
Beberapa jam kemudian, auditorium kembali sepi. Pengambilan suara pada hari Selasa membawa hasil yang jauh dari dugaan kebanyakan orang.
Pada hari Rabu, terjadi kejutan besar bagi semua orang. Pagi-pagi sekali, Habibie mengumumkan bahwa ia mengundurkan diri dari pertarungan. Ini terjadi beberapa jam sebelum pemungutan suara berlangsung. Partai Golongan Karya (Golkar) tidak bisa mengajukan pengganti. Oleh karena itu, pertarungan dalam pemilihan presiden hanya diikuti oleh Gus Dur dan Megawati.
Beberapa jam kemudian, ketika penghitungan suara dimulai, banyak orang menganggap Megawati akan menang. Pada awalnya, Megawati memimpin, tetapi penghitungan berikutnya menunjukkan bahwa Gus Dur mendekati perolehan suara. Proses penghitungan berlangsung dua per tiga, masing-masing mengumpulkan sekitar 250 suara. Setelah saat berikutnya, Gus Dur mengumpulkan sedikit lebih banyak suara dan kemudian meningkat pada bagian akhir penghitungan. Keadaan menjadi dua kali lebih tegang dari sebelumnya. Pada akhir penghitungan, Gus Dur mengumpulkan 60 suara lebih banyak dari Megawati. Megawati berjalan menghampiri kawan lamanya. Tangannya diletakkan di pundak Gus Dur. Megawati tampak tenang tanpa menunjukkan perasaannya, dan terlihat menerima kekalahannya dengan anggun. Sudut-sudut bibirnya hanya bergetar kecil. Namun demikian, matanya yang membasahi menunjukkan rasa terkejutnya yang dalam. Di tengah-tengah kebisingan awak televisi, Gus Dur tampak tenang dan santai. Istrinya, Sinta Nuriyah, dan puterinya, Yenny, berdiri tenang di sisi Megawati. Wajah mereka pun hampir dapat menyimpan dengan sempurna rasa terkejut mereka. Di tengah-tengah jerit sorak kegembiraan itu, Gus Dur dibantu berdiri dan dibimbing ke podium. Dua hari kemudian, sampul depan majalah The Economist memuat potretnya di samping judul dengan huruf tebal berwarna kuning berbunyi: "Astaga, Gus Dur yang terpilih: presiden baru Indonesia yang mengejutkan."
Seorang Pemimpin yang Bersahaja
Penulis pertama kali mengenal Gus Dur pada tahun 1989 sebagai mahasiswa pascasarjana. Dia terkesan dengan sosok Gus Dur yang sangat hangat dan meluangkan banyak waktu untuknya. Penulis tidak pernah merasa ragu ketika bertanya kepadanya. Gus Dur tidak hanya dikenal di lingkungannya, tetapi juga oleh Gedung Pengurus Besar (PB) Nahdlatul Ulama (NU), yang merupakan bangunan yang terawat baik di jantung Jakarta. Gedung itu, yang terletak di jalan arteri Jakarta Pusat, dengan tingkat kebisingan dan polusi yang tinggi, selalu ramai.
Gus Dur membedakan antara "kaum modernis" dan "kaum tradisional." Kaum modernis, umumnya pedagang kota dan profesional kantoran, cenderung mencerminkan rasionalitas, sedangkan kaum tradisional, khususnya santri, cenderung bersifat mistik. Hal ini tercermin dalam lingkungan non-urban mereka. Kantor pusat NU selalu ramai dikunjungi oleh orang-orang dari berbagai latar belakang, baik di perkotaan maupun pedesaan.
Kesimpulan:
Buku "Gus Dur: The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid" menyajikan gambaran mendalam tentang perjalanan hidup dan karier politik Abdurrahman Wahid. Dari prolog, terlihat jelas bahwa Gus Dur adalah sosok yang penuh kejutan dalam dunia politik Indonesia, terutama saat terpilih sebagai presiden. Buku ini menyoroti perannya dalam masyarakat sipil dan Islam, serta perjuangannya di arena politik Indonesia, termasuk hubungannya dengan Soeharto dan peranannya dalam masa kepresidenannya yang singkat namun penuh gejolak. Melalui biografi ini, pembaca diajak untuk memahami kompleksitas karakter dan pemikiran Gus Dur, serta dampaknya terhadap reformasi dan perubahan di Indonesia, dari seorang pemimpin yang bersahaja hingga menjadi kepala negara.

Komentar