Tentu, berikut adalah ringkasan isi buku berdasarkan gambar-gambar yang Anda berikan, beserta kesimpulannya:
Ringkasan Isi Buku
Buku ini membahas fenomena xenofobia akut di Amerika Serikat, khususnya terhadap etnis Tionghoa, yang disebut sebagai "anti-China xenophobia". Survey menunjukkan peningkatan tajam kebencian ini, dengan 70% dari 1100 responden yang disurvei secara acak menunjukkan sentimen xenofobia.
Penulis menjelaskan bahwa "xena" berasal dari bahasa Latin yang berarti "asing", sehingga xenofobia diartikan sebagai ketakutan atau kebencian terhadap orang asing. Kebencian terhadap orang Tionghoa di Amerika ditekankan sebagai sesuatu yang tidak alami, melainkan diajarkan.
Salah satu pemicu kebencian ini adalah dalil agama, di mana kebencian terhadap ras kuning termuat dalam taurat versi Amerika dan diperkuat oleh kutipan ayat agama Kristen yang dipelintir oleh "pemain politik". Disampaikan juga bahwa keturunan Tionghoa telah lama menetap di Amerika (sejak Gold Rush 1849) dan dikenal sebagai ABC (American Born Chinese).
Penyebaran COVID-19 yang dimulai di China, dan klaim pihak Trump sebagai "Wuhan flu", dianggap sebagai upaya diskreditasi dan pencitraan negatif yang menciptakan kebencian terhadap orang Tionghoa di Amerika. Padahal, yang menjadi sasaran kemarahan adalah warga negara Amerika keturunan Tionghoa, bukan turis dari China.
Dari segi politik, buku ini menyoroti bagaimana kebijakan luar negeri Indonesia harus mampu mengantisipasi situasi ini. Disebutkan bahwa dalam pilpres Amerika, Biden bersandar pada mayoritas anti-China xenophobia. Namun, ada indikasi dari dokumen yang "belum terbakar" dari konsulat Tiongkok di Houston yang mendukung dugaan dukungan terhadap partai Biden, yang menimbulkan pertanyaan.
Penulis mengkritik sikap "diplomatis mengambang" Biden dan menyebutnya takut bersuara karena ada "udang di balik rempeyek". Sementara itu, Trump digambarkan sebagai sosok yang tega membela Amerika demi jabatan, sering menekan minoritas, dan menciptakan xenofobia sebagai bagian dari kampanye dengan ciri khas "Wuhan flu". Penyebab resesi Amerika, banyaknya kematian di Amerika, dan pengangguran dihubungkan dengan Tiongkok sebagai "musuh bersama" yang diciptakan.
Situasi ini dilihat sebagai peluang bagi Trump untuk menjabat 4 tahun lagi. Penulis mengungkapkan bahwa meskipun tidak menyukai Trump, ia berharap Trump menang karena kemenangan Trump akan memperpanjang "perang di Tiongkok" bagi Amerika, yang pada akhirnya akan membuat kedua negara besar itu berantakan.
Dalam konteks ini, penulis melihatnya sebagai "MASA YANG PALING TEPAT INDONESIA" untuk menjadi terdepan tanpa bergantung pada asing. Penulis menyerukan agar pemimpin Indonesia memiliki semangat membangun bangsa tanpa bergantung pada investasi dan uang asing.
Buku ini juga menyentil tentang sistem keuangan global. Jika Trump menang, harga emas akan naik karena emas bukan lagi komoditas, tetapi akan menjadi alat pembayaran yang lebih baik. Dollar yang saat ini menjadi mata uang sombong dicetak berdasarkan "SURAT HUTANG PEMINJAM" (bond).
Penulis mengusulkan agar Indonesia juga bisa mencetak Rupiah berdasarkan proyek negara lain, seperti pembangunan infrastruktur di Timor Timur, Papua Nugini, Fiji, Kepulauan Solomon, Srilanka, dan Filipina Selatan. Ini disebut sebagai cara untuk memanfaatkan situasi perang dua gajah (Amerika-Tiongkok), di mana Indonesia seharusnya tidak mendukung keduanya, melainkan menyiapkan sandiwara untuk membantu negara-negara tetangga dengan membangun proyek-proyek menggunakan Rupiah.
Kesimpulan:
Buku ini mengkritisi meningkatnya xenofobia anti-China di Amerika Serikat yang dimanipulasi oleh politik untuk kepentingan domestik dan kampanye. Penulis berargumen bahwa konflik ini, yang melibatkan dua kekuatan besar (Amerika dan Tiongkok), harus dilihat sebagai peluang emas bagi Indonesia untuk bangkit dan mandiri secara ekonomi, membangun bangsa dengan kekuatan sendiri (Rupiah), dan tidak bergantung pada investasi atau uang asing. Pada dasarnya, buku ini menyerukan semangat nasionalisme dan keberanian Indonesia untuk mengambil keuntungan dari ketegangan global demi kemajuan bangsa.

Komentar