Tentu, berikut adalah ringkasan isi buku berdasarkan gambar-gambar halaman yang diberikan, diikuti dengan kesimpulan:
Ringkasan Buku "How Is The Money Come to You?" oleh Mardigu Wp
Buku ini membahas tentang bagaimana uang datang kepada kita, dengan fokus utama pada pergeseran pola pikir (mindset) dan sistem kepercayaan (belief system) seseorang terhadap uang dan kekayaan.
Penulis memulai dengan fakta menarik: jika 375 orang terkaya di dunia digabungkan, kekayaan mereka setara dengan 3 miliar umat manusia. Ini memicu pertanyaan tentang perbedaan mendasar yang membuat sebagian orang sangat kaya. Jawabannya, menurut penulis, terletak pada "nasib" atau lebih tepatnya "belief system" yang dimiliki seseorang.
Bab Awal: Konsep Kekayaan dan Belief System Otak manusia memiliki dua bagian: sadar (conscious) yang menguasai 12% informasi, dan bawah sadar (subconscious) yang menguasai 88%. Informasi yang ditanamkan ke alam bawah sadar akan menjadi gerak. Jika seseorang percaya bahwa untuk kaya harus kerja keras, itu akan menjadi kenyataan. Penulis mengilustrasikan dengan contoh 375 orang kaya yang memiliki "software ultra kaya" sebesar 3 milyar, sementara sisanya tidak. Perokok yang berhenti merokok juga merupakan contoh pergeseran belief system.
Pengalaman Pribadi Penulis dan Pembelajaran Penulis menceritakan perjalanannya belajar dari "Ramta's Mind" di Australia pada tahun 2001, di mana ia bertemu 110 orang dari berbagai negara. Mereka berbagi pengalaman hidup yang "seram-seram" dan penuh penderitaan. Banyak di antaranya adalah orang-orang yang bangkrut, ditipu, atau mengalami kesulitan finansial yang parah. Cerita-cerita ini membuat penulis menangis dan menyadari bahwa penderitaan seringkali merupakan titik balik untuk mencari jawaban. Penulis kemudian belajar tentang bagaimana uang datang melalui cara yang berbeda, bukan hanya bekerja keras.
Sesi Pelajaran: Pertanyaan Mendasar tentang Uang Dalam sesi pelajaran, peserta dihadapkan pada pertanyaan seperti "How is the money come to you?" dan "Kalau tidak ada uang apa yang anda lakukan?". Jawaban umum adalah "BEKERJA" dan "MENCARI KERJA" untuk mendapatkan uang. Penulis menggarisbawahi bahwa ini adalah cara kerja otak yang umum, namun perlu dipertanyakan kebenarannya.
Pertanyaan yang lebih menohok muncul: "Anda bertuhan Mr Mardigu, anda percaya Tuhan?" dan "Bisakah Tuhanmu mendatangkan uang padamu tanpa kerja?". Penulis awalnya terkejut, namun kemudian diajarkan bahwa manusia seringkali tidak meminta secara spesifik dan hanya mengeluh. Manusia sering memilih untuk repot dan frustrasi hanya untuk mendapat sedikit uang, padahal bisa meminta tak terbatas dari Tuhan dengan melakukan hal yang disukai.
Pergeseran Paradigma dan Sistem Kepercayaan Geoff, instruktur penulis, menjelaskan bahwa manusia seringkali terpaku pada "nasib" yang sudah ditentukan Tuhan, padahal Tuhan memberikan kebebasan untuk memilih jalan. Manusia sering memilih jalan yang sulit karena belief system yang kokoh dan lama. Kuncinya adalah meruntuhkan belief system lama dan membangun pondasi belief system baru yang selaras dengan "maunya" Anda.
Penulis juga menyoroti kebiasaan membuang waktu, uang, dan energi untuk hal-hal yang tidak penting, daripada fokus pada pikiran yang memberdayakan. Belajar harus berani sakit, karena kebenaran seringkali terasa tidak nyaman atau "menohok".
Kegagalan Awal dan Pembatalan Doa Penulis mengakui bahwa pada awalnya, setelah 3 bulan mencoba mempraktikkan sistem kepercayaan baru, ia mengalami "tabrakan". Ini menunjukkan bahwa belief system tidak mudah diubah. Ia juga membahas tentang "pembatalan doa" β ketika seseorang meminta sesuatu (misalnya 1 milyar rupiah), namun pikiran bawah sadarnya berkata "tidak mungkin" atau "darimana caranya?". Pikiran negatif ini secara efektif membatalkan doa.
Penulis menceritakan pengalamannya bekerja di tahun 2001 untuk menutup biaya hidup dan cicilan hutang. Meskipun memiliki posisi direktur bisnis, ia hanya digaji 2000-2002 USD per bulan dan kontraknya berakhir setelah 9 bulan. Ini menunjukkan bahwa posisi tinggi tidak selalu menjamin kekayaan jika belief system tidak mendukung.
Buku diakhiri dengan anekdot personal penulis saat meminta anaknya yang berusia 5 tahun untuk mengambil sepatu. Anaknya diam, menatap penulis dengan ekspresi tak percaya, seolah terkejut dengan permintaan yang tidak biasa. Ini menjadi metafora tentang bagaimana belief system lama kita kadang membuat kita "diam" atau menolak hal-hal yang sebenarnya mungkin, hanya karena tidak sesuai dengan kebiasaan atau pemahaman umum.
Kesimpulan:
Buku "How Is The Money Come to You?" secara fundamental menekankan bahwa kekayaan dan kesuksesan finansial tidak semata-mata ditentukan oleh kerja keras atau nasib, melainkan sangat dipengaruhi oleh "belief system" atau sistem kepercayaan yang tertanam dalam alam bawah sadar seseorang. Pergeseran dari pola pikir yang membatasi ("uang datang karena bekerja keras") menuju pola pikir yang memberdayakan ("uang datang karena melakukan apa yang disukai dan selaras dengan keinginan") adalah kunci untuk membuka potensi kekayaan yang tak terbatas. Penulis mengajak pembaca untuk mempertanyakan belief system lama, membangun yang baru, dan memahami bahwa kemampuan untuk "meminta" dan "menerima" dari semesta (atau Tuhan) adalah fundamental dalam menarik uang dan kemakmuran, bukan hanya melalui upaya fisik semata.

Komentar